Harus Dilestarikan, Kenali Nelayan Tradisional dan Tradisinya!

Nakama Aruna

April 20, 2022

nelayan tradisional, sustainable fisheries

Teman Aruna, tahukah kamu bahwa adanya kondisi alam, latar belakang para nelayan, muatan, hingga nilai adat yang dimiliki dapat menciptakan suatu identitas dan pola aktivitas melaut yang unik dan berbeda? Tak heran apabila ada berbagai tipe nelayan yang bahkan masih bisa ditemui hingga saat ini. Fenomena klasifikasi nelayan ini memaparkan fakta bahwa setiap tipe nelayan memiliki karakteristik tersendiri, tak terkecuali bagi nelayan tradisional. Aruna sebagai startup perikanan dan kelautan yang peduli akan keanekaragaman industri perikanan Indonesia mengajak Teman Aruna untuk mengenal nelayan tradisional. Harapannya, kita bisa lebih menghargai dan melestarikan nilai yang mereka percayai. Lebih lanjut, Aruna juga berkomitmen untuk menjaga sustainable fisheries dan memberdayakan nelayan tradisional karena mereka memiliki peranan penting dalam lingkup perekonomian di wilayah pesisir.

1. Ukuran sampan atau perahu yang dipakai oleh nelayan Indonesia

Salah satu ciri dari nelayan tradisional bisa dilihat melalui besarnya ukuran sampan atau perahu yang dipakai. Ukuran perahu dihitung menggunakan satuan GT (Gross Tonage). Nelayan tradisional memiliki perahu dengan ukuran antara 5 hingga 10 GT. Di kelasnya, ukuran tersebut memang terbilang kecil, sehingga memberikan suatu limitasi tersendiri bagi nelayan tradisional untuk menjelajah dan menampung hasil tangkapan ikan saat melaut. Ukuran kapal juga berkaitan dengan kebijakan pemerintah dalam pemungutan pajak yang disebut PHP (Pungutan Hasil Perikanan). Sebagai contoh, kapal dengan ukuran 30 GT (Gross Tonage) akan dipatok dengan pungutan yang lebih besar dibanding perahu dengan ukuran di bawahnya sesuai dengan kebijakan yang berlaku. Dalam hal ini, kebijakan tersebut menjadi upaya pemerintah dalam mendukung berbagai lapisan nelayan di Indonesia, tak terkecuali bagi nelayan tradisional. Sehingga, dengan pungutan yang minim atatu bahkan nihil, nelayan tradisional bisa lebih merasakan hasil tangkapan laut mereka.

2. Luas daerah tangkapan nelayan tradisional yang terbatas

Atribut teknis mencakup fasilitas pendukung hingga ukuran kapal tidak bisa dipungkiri mempengaruhi nelayan tradisional dalam menjalankan aktivitas perikanan mereka. Ini berdampak pada coverage atau cakupan wilayah melaut mereka. Ruang gerak yang terbatas tentu mempengaruhi hasil tangkapan ikan para nelayan tradisional, bahkan terkadang “persaingan” penangkapan hasil laut menjadikan nelayan tradisional sebagai korban karena banyak ikan yang sudah terjaring oleh kapal besar dengan cakupan wilayah yang lebih masif. Cakupan luas dan fasilitas lebih mumpuni yang dimiliki oleh nelayan modern memang bisa menjadi ancaman tersendiri bagi nelayan tradisional. Oleh karena itu, eksistensi dari nelayan tradisional perlu diselamatkan. Para nelayan tradisional menggunakan pendekatan melaut sesuai dengan local wisdom yang mereka percaya, sehingga eksistensi nelayan tradisional berhubungan langsung dengan keberadaan nilai adat mereka. Apabila nelayan tradisional tidak diberdayakan dengan maksimal, maka bisa jadi adat dan tradisi melaut mereka akan menghilang.

3. Pendekatan yang sederhana untuk menentukan cuaca dan daerah penangkapan

Nelayan tradisional memiliki suatu pemahaman tersendiri mengenai tanda-tanda alam, sehingga untuk memprediksi cuaca atau kondisi laut, mereka akan mencoba untuk membaca gejala-gejala alam tersebut. Nelayan tradisional dari berbagai wilayah Indonesia mengetahui secara baik berbagai angin musiman yang bertiup secara berkala, berhembus dari arah dan waktu tertentu. Sehingga memahami dan menghafal sifat dari angin-angin tersebut menjadi
salah satu cara mereka untuk memprediksi cuaca. Nelayan tradisional juga mengamati bentuk awan untuk memprediksi kondisi cuaca. Sebagai contoh, apabila ada awan tebal berwarna keabu-abuan dan kehitaman terlihat menggantung membentuk suatu garis yang mengarah ke arah tertentu, mereka menyakini bahwa ini merupakan pertanda akan terjadinya cuaca buruk. Kemudian, nelayan tradisional juga dapat mengamatai arus laut sebagai tanda untuk memprediksi cuaca.

4. Apakah terdapat kawanan burung di permukaan laut?

Cara nelayan tradisional mengetahui daerah penangkapan dilakukan secara tradisional tanpa menggunakan alat seperti radar. Mereka mengandalkan pengalaman turun-temurun dalam membaca kondisi laut seperti mengamati apakah ada buih-buih air pada permukaan air dan melihat apakah terdapat kawanan burung di permukaan laut. Hal ini mengakibatkan para nelayan harus menjelajah perairan untuk mencari tanda-tanda alam tersebut.
Bagi para nelayan tradisional, untuk menghidupi diri, keluarga sekaligus menjaga kearifan lokal, mereka melakukan berbagai aktivitas melaut dengan cara yang lebih sederhana dan bersahaja. Mencari kehidupan di laut Indonesia tercinta dengan kekayaan local wisdom menimbulkan berbagai keterbatasan bagi nelayan tradisional. Oleh karena itu, Aruna dengan tetap memperhatikan tradisi yang dimiliki oleh para nelayan tradisional akan selalu mendukung
aktivitas perikanan mereka, sehingga diversitas laut Indonesia tetap akan terjaga.

5. Komitmen Aruna

Aruna ingin membantu nelayan tradisional melalui berbagai cara, salah satunya dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia. Pemberdayaan dan bantuan pun bisa dikerahkan di berbagai hal lainnya untuk mengurasi limitasi namun tetap menjaga nilai tradisi para nelayan tradisional. Sehingga, ke depannya nelayan tradisional bisa melaut dan melakukan aktivitas perikanan dengan lebih efisien. Ini bisa menjadi langkah yang baik untuk menjaga sustainable
fisheries di wilayah pesisir, melestarikan nelayan tradisional sekaligus mendorong produktivitas mereka.

Leave a reply

No comments found.