Plankton, Tokoh Kunci Keberlangsungan Sea Fisheries Industry

Nakama Aruna

June 20, 2022

plankton, sea fisheries industry, startup perikanan, sustainability perikanan

Beberapa tahun belakangan ini, semakin banyak masyarakat yang mulai sadar akan besarnya peran dan potensi yang dimiliki oleh luasnya perairan di negara kita. Sedikit banyak, hal ini juga berkat mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Ibu Susi Pudjiastuti. Karena beliau begitu memahami secara mendalam mengenai sea fisheries industry, bidang yang sudah digelutinya sejak lama. Salah satu jargonnya yang masih terngiang hingga sekarang adalah, “Tenggelamkan (orang) yang tidak makan ikan!”.

Dibalik popularitas konsumsi ikan yang terus menanjak, sebenarnya masih banyak materi yang perlu lebih di edukasikan lagi ke masyarakat, salah satunya tentang keberadaan plankton sebagai kunci utama indikator seimbangnya ekosistem perairan.

Plankton Pemasok Utama Oksigen yang Penting bagi Sea Fisheries Industry

Belum banyak yang tahu kalau sebenarnya selama ini yang menjadi pemasok utama oksigen di planet bumi adalah plankton, tepatnya fitoplankton.  Bahkan hasil penelitian mengungkap bahwa fitoplankton memproduksi sekitar 50% hingga 85% dari total oksigen per tahunnya. Padahal selama ini banyak dari kita yang mengira bahwa sumber oksigen terbanyak adalah tumbuhan.

Indikator Keseimbangan Ekosistem Laut

Banyaknya jumlah plankton yang terdapat dalam sebuah kawasan perairan, akan menentukan warna dari laut tersebut. Jika warnanya hijau atau biru, maka hal tersebut menandakan bahwa ekosistem laut sedang dalam kondisi seimbang. Akan berbeda kondisinya jika warna air laut terlihat kemerahan karena memiliki kandungan fitoplankton yang terlalu banyak. 

Keberadaan fitoplankton yang terlalu banyak dalam perairan, menandakan bahwa ekosistem pada laut tersebut sedang tibak imbang dan dapat menimbulkan banyak masalah. Mulai dari ikan-ikan yang akan mati karena fitoplankton menyerap terlalu banyak unsur hara dan fitoplankton yang kurang sehat ini dimakan oleh ikan di sekitarnya.

Kejadian ini disebut blooming fitoplankton, dimana kandungan fitoplankton terlalu banyak karena menyerap terlalu banyak unsur hara dan tidak diimbangi oleh banyaknya jumlah ikan yang mengkonsumsinya.

Kejadian blooming fitoplankton di Indonesia

Di perairan nusantara sendiri, sudah beberapa kali terjadi tragedi blooming fitoplankton. Hal ini menyebabkan banyaknya ikan yang mati dan mengambang di permukaan laut. Sementara ikan yang mati dalam kondisi seperti ini, sudah tidak layak dikonsumsi. Sehingga menimbulkan kerugian bagi para nelayan.

Penyebab Banyaknya Ikan yang Mati Karena Fitoplankton

Sebelumnya kita sudah membahas bahwa kandungan zat hara yang terlalu banyak di lautan akan diserap semua oleh fitoplankton. Setelah mengkonsumsi banyak zat hara yang mengandung racun, fitoplankton pun akan lebih banyak bereproduksi. Kondisi terlalu banyaknya fitoplankton yang tidak sehat ini membuat kadar oksigen di perairan juga semakin menipis. Ketersediaan oksigen yang terlalu tipis di perairan akan membuat para ikan mengalami kerusakan insang.

Ketidakseimbangan fitoplankton akan mengganggu sektor sea fisheries industry

Zat hara yang bisa terkandung bahan kimia berbahaya akan diserap oleh fitoplankton. Karena ikan mengkonsumsi fitoplankton yang tidak sehat ini, maka jika ikan tersebut sampai ke supplier seafood kemudian dikonsumsi oleh manusia, makan akan berakibat buruk. Salah satu efeknya adalah manusia akan mengalami gangguan pernafasan karena mengkonsumsi ikan yang sudah tercemar tersebut.

Masyarakat Harus Mengambil Peran Mencegah Terjadinya Blooming Fitoplankton

Akan ada banyak dampak buruk yang akan dirasakan, bukan hanya bagi ekosistem laut, tetapi juga oleh manusia, jika keseimbangan alam tidak terjaga. Oleh karena itu, seluruh kalangan mulai dari pemerintah, pelaku bisnis, startup perikanan, para nelayan hingga masyarakat umum harus ikut berperan aktif dalam menjaga kelestarian alam.

Kenapa masyarakat umum harus ikut terlibat mencegah terjadinya blooming fitoplankton? Karena masih banyak masyarakat yang langsung membuang limbah domestik mereka ke perairan. Limbah ini akan mengalir hingga ke lautan dan diserap oleh plankton. Oleh karena itu, startup Aruna melalui Aruna hub berusaha menggandeng seluruh lapisan agar turut serta menjaga kelestarian lingkungan. Salah satunya adalah dengan mengedepankan metode sustainable fisheries. Yaitu dengan mengolah hasil perikanan secara tepat dan mengurai limbah agar tidak mencemari lingkungan.

Leave a reply

No comments found.