Warisan Sustainable Fisheries Partnership Indonesia dari Leluhur

Nakama Aruna

June 21, 2022

Warisan Sustainable Fisheries Partnership Indonesia dari Leluhur, Tiyaitiki, tradisi di papua

Selama kita cenderung menjadikan budaya luar sebagai role model dan sumber pengetahuan di berbagai lingkup kehidupan. Padahal sebenarnya ada banyak kebudayaan yang dilestarikan oleh para leluhur kita dan patut untuk diterapkan. Salah satu bekal dari nenek moyang yang dapat diterapkan ini, ternyata ada juga yang berkaitan dengan lingkup sustainable fisheries partnership Indonesia.

Nenek moyang bangsa kita ternyata sudah memiliki ilmu manajemen pengolahan laut yang berkelanjutan. Hal ini terbukti dari budaya tradisional yang masih dijalankan di daerah Papua, tepatnya oleh suku Tepra di Teluk Tanah Merah, Distrik Depapre. Suku ini memiliki tradisi Tiyaitiki, kearifan lokal yang mengatur pengelolaan sumber daya laut berkelanjutan demi tetap memperhatikan aspek konservasi. Sehingga meskipun masyarakat adat setempat mengeksplorasi laut sebagai mata pencaharian, ada peraturan yang wajib dipatuhi.

Tiyaitiki, Role Model Peraturan Sustainable Fisheries Partnership Indonesia

Kawasan Papua memang dikenal sebagai kawasan yang tetap menjaga tradisi dan budaya yang sudah diwariskan turun-temurun oleh nenek moyang dari masa lampau. Kebudayaan ini memang kebanyakan kaku dan sangat mengikat bagi masyarakat adat, sehingga tidak mudah luntur termakan zaman dan kemajuan teknologi. Sisi positifnya, tradisi Tiyaitiki yang tetap dijalankan oleh masyarakat adat suku Tepra membuat kelestarian alam tetap terjaga.

Inti dari kearifan lokal yang satu ini adalah larangan untuk menangkap hasil laut selama beberapa waktu, untuk membiarkan laut melakukan konservasi secara alami. Padahal, tradisi ini merupakan peraturan tidak tertulis yang penerapannya dipimpin langsung oleh pemimpin adat atau panitua. Tetapi masyarakat tetap patuh dan mengikuti peraturan tiyaitiki, karena perspektif yang dibuat adalah memandang alam sebagai “ibu” yang memberikan ASI bagi mereka. Untuk penerapannya sendiri, ternyata dilakukan secara menyeluruh yang mengatur hubungan masyarakat dan alam.

Tiyaitiki sebagai ilmu manajemen sustainable fisheries partnership indonesia

Setiap tradisi pasti biasanya diikuti pula dengan pelaksanaan upacara, begitu juga dengan penerapan tiyaitiki. Menjelang masa pelarangan penangkapan ikan, panitua akan melakukan upacara penancapan kayu yang menunjukkan area mana saja yang tidak boleh dimasuki oleh manusia. 

Tetap terbuka dan menerapkan teknologi

Meskipun ini tradisi lampau yang diwariskan oleh nenek moyang, keberadaan teknologi tetap digunakan oleh masyarakat. Karena teknologi yang membantu menangkap hasil laut tanpa merusak alam bisa digunakan oleh masyarakat.

Membantu masyarakat membagi area kelola

Tradisi masyarakat suku Tepra ini bukan hanya menentukan larangan, tetapi juga mengatur pembagian area yang dapat dikelola oleh masing-masing kelompok. Sebuah kelompok akan mengelola hasil laut di area yang sudah ditandai sebelumnya, sehingga kelompok lain dilarang keras untuk mengambil hasil alam dari area mereka.

Ada sanksi bagi yang melanggar

Agar masyarakat tetap patuh, tentu saja ada sanksi yang akan diberikan jika ada yang melanggar peraturan larangan kelola laut ini. Sanksi akan langsung diberikan oleh panitua bagi siapa saja yang berani melanggar

Juga diterapkan di suku lain dengan nama  Sasi Nggama

Ternyata ada suku lain dari Papua yang memiliki tradisi yang sama, yakni suku yang berada di daerah Kaimana. Tidak memiliki banyak perbedaan, tradisi di daerah Kaimana ini juga mengatur agar tata pengelolaan hasil laut dapat tetap memperhatikan aspek kelestarian alam.

Terbukti bahwa kearifan budaya lokal juga memiliki peran positif dalam menerapkan sustainable fisheries, dan memang tidak kalah dibandingkan dengan budaya asing. Hal ini dapat menjadi inspirasi agar kita bisa lebih mengenal budaya dari dalam negeri sendiri.

Semoga setelah ini bukan hanya startup Aruna  dan pelaku ekonomi yang tergabung dalam Aruna Hub, tetapi seluruh lapisan masyarakat dan startup perikanan lainnya juga ikut tergugah untuk menggali tradisi budaya yang mengedepankan sustainability. Terutama yang bermanfaat bagi kemajuan fisheries industry

Leave a reply

No comments found.