Peran Penyuluh Penting Dalam Sustainable Fisheries Development

Nakama Aruna

23 Agustus 2023

Penyuluhan Sustainable Fisheries Development

Pemerintah Republik Indonesia telah menjadikan ekonomi biru sebagai haluan serta mencanangkan visi untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Keduanya tentu mensyaratkan Indonesia agar memiliki pilar yang kuat di sektor kelautan dan perikanan. Karena sektor kelautan dan perikanan akan memegang posisi yang semakin penting, maka diperlukan strategi sustainable fisheries development yang komprehensif dan mumpuni agar dapat menjadikan dunia maritim Indonesia sebagai tulang punggung pembangunan yang kokoh.

Dalam menjalankan sustainable fisheries development, ketersediaan dan kualitas parah penyuluh turut memegang peran penting untuk mencapai keberhasilan penerapan program prioritas yang telah dicanangkan pemerintah, khususnya Kementerian Kelautan dan Perikanan. Hal ini dikarenakan para penyuluh bertugas mendampingi serta menjadi penghubung untuk menyampaikan informasi seputar dunia perikanan dari pemerintah pusat ke daerah-daerah. Mengingat peran penting yang diemban oleh tenaga penyuluh perikanan, maka sangat miris ketika fakta di lapangan justru mengungkapkan bahwa jumlah mereka masih belum sesuai dengan kebutuhan.

Berbagai Daerah Masih Kekurangan Tenaga Penyuluh Perikanan

aruna fokus dalam penyuluhan sustainability perikanan

Salah satu contoh kasus kekurangan tenaga penyuluh perikanan ini terjadi di Kabupaten Empat Lawang, Provinsi Sumatera Selatan. Koordinator Penyuluh Perikanan Kabupaten Empat Lawang, Andi Ramlan S.Pi. mengungkapkan bahwa di area kerjanya hanya terdapat 7 orang yang tergabung dalam tim penyuluh perikanan di Dinas Perikanan Kabupaten Empat Lawang. Sementara di Kabupaten Empat Lawang terdapat 10 kecamatan dan di Kecamatan Pendopo seharusnya disediakan 2-3 orang penyuluh karena kegiatan perikanan di sana lebih besar dibandingkan kecamatan lain.

“Idealnya satu kecamatan satu orang penyuluh perikanan. Kita ada 10 kecamatan. Akan tetapi juga tergantung wilayah perikanannya seperti Kecamatan Pendopo itu idealnya 2 atau 3 orang penyuluh perikanan,” demikian kata Andi Ramlan. Apalagi mengingat tugas mereka sangat penting untuk mengoordinasikan kegiatan perikanan di Satuan Administrasi Pangkalan (satminkal) penyuluhan perikanan serta dinas kelautan dan perikanan Provinsi Sumsel. Selain itu, para penyuluh perikanan juga bertugas melakukan verifikasi serta menandatangani pelaporan dan absensi penyuluhan perikanan dan melaksanakan tugas lain yang didelegasikan oleh BRSDM KP (Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan).

Kekurangan Penyuluh Perikanan Akan Berdampak Pada Jalannya Sustainable Fisheries Development

Persoalan kekurangan sumber daya manusia (SDM) di badan KKP ini harus segera diselesaikan, apalagi mengingat pemerintah baru saja mereformasi sistem pendidikan kelautan dan perikanan dan melakukan meleburkan seluruh unit menjadi Ocean Institute of Indonesia (OII). Karena jika jumlah SDM penyuluh perikanan tidak memenuhi jumlah yang ideal, maka penerapan sustainable fisheries development akan mengalami keterlambatan karena penyampaian informasi dari pusat ke daerah-daerah tidak dapat berjalan dengan baik dan tentunya akan mengakibatkan keterlambatan juga pada berjalannya fisheries industry.

Local Hero dan Aruna Hub, Bukti Aruna Menyadari Pentingnya Ketersediaan SDM Penyuluh Perikanan

Selama ini Aruna sebagai perusahaan perikanan yang fokus untuk meningkatkan taraf hidup nelayan melalui kegiatan perikanan yang berkelanjutan, menyadari betul pentingnya posisi pendamping dan penyuluh dalam mengawal berjalannya kegiatan perikanan. Melalui peran aktif ekosistem kelautan dan perikanan Aruna Hub serta peran para Local Hero di setiap daerah inilah, Aruna berhasil melakukan transfer ilmu, pengetahuan dan teknologi ke masyarakat pesisir. Ya, bukan hanya para nelayan saja yang merasakan peningkatan taraf hidup, melainkan masyarakat non nelayan yang bermukim di pesisir pun turut merasakan dampak positif.

Aruna berhasil mengedukasi para penduduk pesisir khususnya perempuan untuk dapat menghasilkan produk turunan dari sisa hasil kegiatan penangkapan atau budidaya perikanan. Produk yang mereka hasilkan pun dibantu pemasarannya agar dapat disalurkan ke konsumen potensial seperti restoran, hotel maupun supplier seafood di berbagai daerah hingga ke luar negeri. Oleh karena itu melihat kenyataan bahwa masih banyak daerah pesisir di Indonesia yang kekurangan tenaga penyuluh perikanan, sangat memprihatinkan. Semoga pemerintah dapat bekerjasama dengan para akademisi maupun sektor swasta untuk dapat segera menyelesaikan permasalahan kekurangan SDM ini.

Leave a reply

No comments found.